seperti katamu....
kita cuma jalan disepenggal alur jalan
engkau berada di alur kiri
dan
ku berada di alur kanan
seraya sesekali tangan kita menepis sepi
dan kabut musim dingin
seperti katamu
kita sama-sama kehilngan makna
entah bersatu dititik mana.............
Seperti Katamu
sepenggal sandiwara
penipu..!!!
teriakku setengah marah, padahal senyum bahagia masih membekas sisa
sebab masih teringat kata-kata
tunggu aku di stasiun itu....
dari sana kita kan terbang menuju puncak langit biru
lalu siapa yang penipu...???
bukankah ini cuma penggalan cerita...?
toh akan banyak lagi kisah-kisah yang lebih haru menunggu
masih banyak lagi kesetiaan dan kesejatian picisan kan terulang
dan hidup akan terus melaju tinggalkan sandiwara ungu
apakah kau pikir harus terhenti demi sebuah ucapan kasmaran yang membabi buta ???
atau ini memang kelaziman yang kau ciptakan semata..??
dan akhir semuanya dapat pasti kau terka
"adalagi yang tertipu !!!"
huh !!!
terbuang
hari kian gelap.....
sang pemuda belum jua terpejam
ketika malam hampir lewat sepertiga....
gerimis yang turun lahirkan dingin sepi yang lekat...
pada sepoinya angin..
pada buramnya lamunan
ia mungkin tengah benam dalam rasa yang tak karuan
ketika malam tidurkan para serangga
ia bagai terbuang dari riuhnya percakapan...
bagai terabaikan sapa rindu lembut sang pujaan
bagai daun kering terhembus...terbuang angin lalu
oh,.....kemana gerangan mimpi hijau teduh itu....???
semakin dalam...
semakin jauh...
kemudian ia tenggelam dalam nikmat sepi yang perih
"kemana bertanya tuk temui kamu wahai bidadariku ???" bisiknya lirih
bagai musafir dipadang sepi
ia berkeliling menatap savana membentang kosong
disudut mata tertinggalkan gurat kenangan...
tentang beningnya airmata kerinduan
tentang sunyinya langkah-langkah tanpa dekik tawa....
kesepian
Dengarlah deriak hatiku….
Oh…gemeretak yang menusuk-nusuk
Alangkah indahnya pedih itu
Bagai bidadari mati kesepian….
Lalu kemana senyum yang terus membayang
Bagai sampah daun dalam gelombang
Aduhai…manisnya perih hati
Seperti nikmat menuju jalan Sang kekasih
Cicipi jangan sisakan lagi…
Adakah hidup lebih indah diatas rembulan ??
Ya latifu….ya latifu..
setengah yakin
Berbaringlah sejenak …..
Ulurkan ujung jari kakimu menghadap jendela..
Kita memang lelah sudah
Bagai mengejar bayang-bayang syetan
Diujung jalan kembali lagi mencari pembenaran…
Biarkan sepoi angin memasuki celah jari lentikmu
memijat syaraf tegang dikepalamu
dan menenangkan sesaat kalbumu
angin dingin akan sampaikan lagi khabar dariku
dan biarlah itu hanya menyentuh dinding-dinding pencakar langit
ketika waktu hampir habis
dan bulan yang tinggal separuh
berbaringlah terus…
abaikan bisik-bisik yang terus berkecamuk
sama-sama setengah yakin
kita akan lanjutkan impian ini
131208
kejujuran yang tersembunyi
apa bedanya ketidakterusterangan dan kebohongan...??
hatiku bergeming padahal tertanam sudah dalam keyakinan
terbata walau terpaksa kukatakan jua
yang pertama adalah mutasyabiha
sedang yang akhir adalah melawan suara hati
mengertikah engkau sahabat muara keduanya...
seperti maumu...ia adalah danau airmata
dan makna tidak akan merubah isi rahimnya
bagai kopi tertuang dari bejana
kesedihan kita juga sebenarnya sama
engkau sedih karena keduanya
aku sedih karena tidak mengerti
???
tak ku pahami
akulah penipu!!
ucapku menahan perih hatiku
agar terpuaskan deriak amarahmu
agar terobati sesak bathinmu
walau kuragu akan tuntaskan kebencian itu
dan aku pergi arungi lalunya angin sepi
mungkin di bulan jadi lebih baik buatku kini
aku telah menipumu...
jari-jarimu yang seribu terarah dibola mataku
jika lebih dekat engkau pasti menamparku
adakah haram cinta agungmu untukku..???
atau banyak yang tak kupahami lagi darimu??
jika cinta adalah anak panah yg dapat kukendali
pastilah ia kuarahkan menuju matahari
agar terbakar pasti
agar musnah pedih perih dengan abadi
jangan usir aku wahai bidadari...
sebab kelancanganku arahkan busur padamu
sungguh aku tahu diri
dan aku pergi pasti
tanpa kau usir lagi


